Prinsip Loss Aversion
Prinsip Loss Aversion
Prinsip Loss Aversion adalah konsep utama dalam behavioral economics yang menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih takut rugi daripada senang mendapat untung, meskipun nilainya sama.
📌 Pengertian Sederhana
Rasa sakit karena kehilangan Rp100.000 terasa lebih kuat dibanding rasa senang saat mendapat Rp100.000.
➡️ Secara psikologis:
- Rugi 1x ≈ sakitnya 2x
- Untung 1x ≈ senangnya 1x
Inilah yang membuat orang sering tidak rasional dalam mengambil keputusan.
📊 Contoh Sederhana
Pilih mana?
1️⃣ Dapat Rp50.000 pasti
2️⃣ 50% dapat Rp100.000, 50% dapat Rp0
👉 Kebanyakan orang memilih nomor 1, meskipun secara matematis nilainya sama.
Itu karena takut kehilangan peluang.
💸 Loss Aversion dalam Investasi (Penting!)
Ini sering terjadi pada investor:
❌ Kesalahan Umum
- Saham / crypto nyangkut - > “Nanti juga naik lagi”
- Tak mau cut loss, padahal fundamental sudah rusak
- Cepat jual saat untung kecil, tapi lama tahan saat rugi besar
📉 Akibatnya :
- Rugi membesar
- Opportunity cost tinggi
- Portofolio stagnan
🧠 Contoh Nyata di Crypto
- Beli koin di harga Rp10.000
- Turun ke Rp6.000
- Tidak jual karena:
“Kalau jual, rugi jadi nyata”
- Padahal secara logika :
🛡️ Cara Mengatasi Loss Aversion
✅ 1. Tentukan aturan sebelum masuk
- Cut loss: -10% / -15%
- Target profit jelas
✅ 2. Fokus pada probabilitas, bukan emosi
Tanya : “Kalau mulai dari nol hari ini, apakah aset ini masih layak dibeli?”
✅ 3. Gunakan sistem (bukan perasaan)
- Stop loss otomatis
- DCA terencana
✅ 4. Bedakan “harga beli” dan “nilai sekarang”
Pasar tidak peduli kamu beli di harga berapa
🕌 Perspektif Nilai & Syariah (Tambahan)
Dalam konteks hidup & investasi:
- Menjaga harta (hifdzul maal) penting
- Menahan kerugian karena ego → bisa jadi mudharat lebih besar
- Rasional dan disiplin lebih utama daripada gengsi
🔑 Kesimpulan
Loss Aversion membuat orang lebih fokus menghindari rasa sakit daripada mencari keputusan terbaik.
Investor sukses :
- Disiplin
- Berani menerima rugi kecil
- Fokus jangka panjang
